Mengelola Kelas Berdaya

Pada hari Kamis, tanggal 20 Maret 2008, saya diminta untuk memberi pelatihan pengelolaan kelas agar berdaya di PG, TK, SD Plus Al Misbah Jombang Jatim. “Apa yang bapak, ibu guru tanyakan pada saat kita sudah dalam satu suasana ini?” demikian pembuka kegiatan pelatihan tersebut. Nah saat itu langsung diserbu berbagai pertanyaan, di antaranya adalah bagaimana kelas menjadi berdaya?. “Kelas yang berdaya, ini tema kita, setuju”, demikian pertanyaan kami. “Siap dan setuju,” demikian jawaban mereka. Akhirnya kita mendiskusikan kelas berdaya.

Pertama, kita harus menyamakan persepsi tentang kelas. “Siapa yang berhak menghuni di kelas kita?” demikian pertanyaanku kepada peserta. Hampir semua menjawab yaa siswa. “Adakah yang lain, selain siswa?” lanjutku. Semua diam. Tidak ada yang mau menjawab. Nahhh, saatnya kita mendiskusikan dengan kepala sekolah kita. “Siapa yang boleh menghuni kelas kita?” tanyaku lagi. Mungkin saja para orang tua siswa. Mungkin saja para tetangga sekolah. Mungkin saja para pengemis yang ada dan atau yang lewat di depan sekolah kita. Mungkin saja pak lurah, pak camat, dan bahkan pak bupati. “Jadi kalau begitu, siapa yang harus dan berhak menghuni kelas kita?” tanyaku lagi.

Kita harus merumuskan kelas kita untuk apa dan untuk siapa? Tema saat ini apa, bagaimana dan harus dihuni oleh siapa? Inilah sumber utama yang mampu menjadikan kelas kita berdaya. Betapa senang anak-anak jika pagi ini di kelas kita hadlir seorang pedagang burung membawa sekian banyak burung ke dalam kelas. Atau tiba-tiba anak-anak diajak belajar ke balai desa. Kelas anak pindah ke balai desa. Dan seterusnya.

Kedua, saat kita mengajar kita sedang punya modal apa? Modal yang kita miliki dibutuhkan apa tidak oleh kebutuhan anak-anak kita. Nahhh, jika kita tidak punya modal, maka bagaimana untuk menutupi kekurangan kita? Kita juga harus melihat, modal yang di hadapan kita ini untuk apa dan akan kita gerakkan dengan cara apa. Inilah energi memperdayakan kelas. Saatnya menghidupkan modal yang dimiliki oleh peserta didik untuk menjadikan kelas berdaya.

Ketiga, hilangkan peraturan kelas. Saya selalu bertanya mengapa ada peraturan kelas. Tidakkah semua peraturan kelas itu hanya akan menjadikan kekakuan dan penjara bagi anak-anak. Nahhhh, ubah menjadi keinginan-keinginan yang ditulis oleh anak dan ditempel di dinding-dinding. Semisal kita bertanya, “Bagaimana keinginanmu dan pendapatmu agar para utadz dan ustadzah tidak telat saat masuk kelas Anda?” “Apa yang kau inginkan agar saat belajat Anda tidak diganggu oleh kegaduan suara teman sebelahmu atau ulah jahil temanmu?” “Bagaimana sebaiknya kita menyikapi, jika Anda tidak mengerjakan tugas?” “Jika Anda terlambat, ustadz dan ustadzah sebaiknya bagaimana?” Nahhhh daftar pandangan, pendapatan, keinginan dan segala usualan dari anak-anak ditulis sendiri oleh anak-anak kemudian ditempel, dipajang di dinding.

Keempat, pajang semua karya dan hasil anak. Ganti sesering mungkin display kelas. Libatkan anak dalam semua tindakkan dan pekerjaan kelas. Beri penilaian dan penghargaan pada karya yang telah dipajang. Photo hasil karya anak kemudian publikasikan di blog Anda. Beri komentar di blog semua hasil karya anak kita. Ajak mereka menghargai. Nahhh, kelas kita sudah bukan lagi kelas yang mandul tetapi kelas berdaya.

Kelima, hindari segala bentuk ancaman, bentakkan dan kata-kata kasar. Beri penerimaan apa adanya setiap rpibadi anak kita. Masuklah pada pribadi anak kita sehingga menjadi lebih memahami karakternya. Saatnya kita mengerti anak kita. Bukan anak-anak yang harus mengerti kita.

Keenam, teknis menata meja. Bagaimana cara kita menata tempat duduk anak. Bagaimana cara kita menempatkan pribadi anak. Bagaimana kita menempatkan papan tulis. Bagaimana cara kita menggunakan alat peraga. Semua akan mempengaruh cara memberdayakan kelas.

Ketujuh, usahakan putus dunia luar dengan dunia kelas kita. Komunisi luar harus diputus agar konsentrasi anak dapat terfokus. Bagaiaman cara memutus ini? Inialh yang perlu didiskusikan.

Semoga kelas kita dapat berdaya.
Semua bisa, kenapa tidak?

1 Komentar sejauh ini

  1. yantidp on Minggu, Juni 1, 2008

    untuk membuat sesuatu display diperlukan kerja sama yang baik dengan berbagai pihak ,karena diperlukan dana dan hasil karya siswa tentunya .


    Sangat setuju, diperlukan kerja sama dengan berbagai pihak. Dana relatif dapat diatasi. Bukan satu-satunya faktor utama. Kemauan dan kerja sama lebih penting.

Leave a reply