Cara Promosi Sekolah
Pada tahun 1998 bulan Januari, saya mendapatkan tugas untuk melanjutkan lembaga pendidikan yang hanya memiliki lima orang siswa di kelas satu SD-nya. Dari lima anak tersebut hanya ada satu anak yang potensi untuk dikembangkan kemampuan akademiknya. Ditambah dengan problem, sekolah SD masih kontrak rumah yang akan roboh. Nah, bagaimana kita harus mengangkat agar mampu menjadikan sekolah yang sedemikian rupa menjadi baik.
Pertama, setiap pagi antara jam 06.00 hingga jam 08.00 saya selalu berada di depan pagar sekolah untuk menyapa dan menyambut semua yang hadlir saat itu. Tentu saja saya tidak membeda-bedakan yang hadlir untuk mengantar, baik pembantu rumah tangga, sopir, tukang becak, pak ojek atau siapa saja yang menghantar kita sambut dengan kehangatan. Mengapa sampai jam 08.00, karena kami harus melayani untuk berdialoq dengan mereka, biasa jam 08.00 udah mulai sepi orang. Menyapa pada semua yang masuk ke sekolah kita dengan kehangatan dan penerimaan penuh merupakan cara kami mengenalkan sekolah.
Kedua, saya harus mengubah seragam para guru agar lebih baik. Lebih sopan, dan lebih gagak. Nah, saat itu laki-lakinya hanya saja sendiri. Menempati rumah reyot ayang akan roboh. Saya harus memakai dasi, bersepatu yang baik. Awalnya kelihatan lucu. Un lama-kelamaan, terbiasa. Kemudian ada teman laki-laki satu, dan pada tahun berikutnya tambah satu lagi. Sehingga semua guru laki-laki berpakain rapi, demikian pula dengan para uustadzahnya. Seragam guru merupakan cara penampilan lahiriyah yang memberi kesan keseriusan. Serius apa tidak dalam pengelolaan sekolah, mungkin demikian yang dapt ditangkap oleh masyarakat dengan bentuk seragam itu. Ini merupakan promosi yang efektif.
Ketiga, saya harus merawat, mendapingi dan membina semaksimal mungkin. Kemudian setiap saat kami menampilkan anak-anak agar dapat dilihat hasil yang telah kami lakukan. Anak-anak sholat jama’ah di masjid umum. Sholat jumat dengan tertib. Mampu menghafal ini dan itu. Tampil mengisi acara-cara dan kegiatan hari besar. Ini cara kami promosi ke masyarakat dengan menggunakan kemampuan anak-anak. Promosi tidak harus dengan kertas. Tentu saja kita harus mendiskusikan bagaimana dapat mengorbitkan secara tepat kemampuan anak-anak kita?
Keempat, saya melakukan shilaturrahim ke tokoh. Di sana saya meminta saran dan sekaligus menitipkan pesan. Saya menemukan mutiara. Dan saya lebih dapat memahami saat mereka para tokoh menyampaikan keunggulan sekolahan kami lewat khotbah dan pengajian-pengajian mereka. Bahkan pula para ibu-ibu yang menjadi anggota PKK juga berpromosi di setiap kegiatan PKK. Saat ada kegiatan pengajian ikatan jamaah haji, sekolahan kami dibicarakan dan dipromosikan. Nah, kami mendapatkan kenyataan sekolahan kami dipromosikan sepanjang waktu. Bukan hanya saat bulan ini saja. Ini cara efektif untuk menjadikan kepercayaan masyakarat kepada sekolahan kami.
Kelima, saya harus melatih kemampuan guru. Guru kami harus canggih. Harus unggul. Harus memiliki kelebihan. Dari sini para pengguna pendidikan mempercayai kami.
Keenam, evaluasi, memperbaiki dan evaluasi ke dalam semua bidang dan aspek yang mendukung proses pembelajaran.
Dari keenam langkah kami maka pada akhir bulan desember tepatnya tanggal 26 Desember 1998 sekolah kami telah penuh, diserbu oleh peminat belajar. Saat itu kami tidak membuat brosur. Tidak membuat spanduk. Tidak membuat pengumuman di radio, koran dan atau media lainnya. Dan saat itu pula saya mendapatkan protes dari masyarakat, mengapa belum ada pengumuman khok sudah ditutup?


border"/>





