Gunung Pegat
Kemarin pagi jam 07.30 saya diminta oleh Pak De untuk nyupiri penganten ke daerah Rengel Tuban. Rumah Pak De ada di Desa Pangkatrejo Kecamaan Sugio Kab Lamongan. Nahhh, saat akan memberangkatkan manten nenek sang manten pesan agar manten dilewatkan Sukodadi saja untuk menghindari gunung pegat. Orang tuanya juga demikian. Semua sepakat memutuskan untuk lewat jalan yang menghindari dari gunung pegat. Nahhh, saya yang diserah nyopiri manten berada diurutan terdepan. Tanpa banyak tanya, setelah diberangkatkan maka saya langsung membawa manten untuk menuju ke Tuban. Saya tidak mengikuti larangan untuk tidak lewat gunung pegat. Maka saya tetap menelusuri jalur gunung pedat. Semua mobil pengiring lainnya mengikuti. Saya sudah tidak punya keyaqinan apa-apa tentang gunung pegat yang menjadi mitos orang Lamongan.
Di Lamongan ada mitos, bahwa manten tidak diperkenankan melewati gunung pegat. Hal tersebut dikwatirkan jika manten berani lewat situ, maka akan ada akibat yang kurang baik. Paling tidak adalah menjadikan rumah tangganya tidak bisa rukun. Bahkan pasti pisah. Jika berani melewati gunung pegat pasti akan berantakkan hingga talak. Nah inilah keyaqinan orang Lamongan terhadap gunung pegat. Benerkah demikian?
Nah, saat itu saya sampaiakan, “bahwa banyak penganten yang dapat suami istri dalam satu kampung, satu desa tetapi juga cerai. Demikian juga di daerah-daerah yang tidak memiliki gunung pegat juga cerai. Apalagi situasi daat ini, para artis tiap saat siap cerai. Seolah-olah nikah untuk sensai saja, kemudian cerai untuk menaikkan popularitas”.
“Apalagi saat ini secara kondisi, gungung pegat sudah jadi jurang. Karena setiap hari diambil batunya untuk keperluan pembangunan”, demikian tambahku


border"/>






Dalam terminologi Islam keyakinan itu disebut “aqidah”.
Dalam nilai-nilai Islam, aqidah seorang muslim adalah sebagaimana diajarkan Allah SWT dalam QS.Al Ihklas atau QS.112:1-4
Allah SWT berfirman, “Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah ‘tempat’ meminta. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tiada sesuatupun yang setara denganNya” (QS.112:1-4).
Bila seorang muslim memiliki keyakinan (gaib) yang bertentangan dengan QS. Al Ikhlas, maka ia telah melakukan kesalahan, karena ia tidak ikhlas lagi menjadi muslim.
Oleh karena itu, ia harus memperbaiki diri, dan kembali ikhlas pada nilai-nilai Islam dengan menerapkan QS.Al Ihklas.
Tiada keikhlasan, bila bertentangan dengan QS. Al Ikhlas.
Untuk share silahkan klik http://sosiologidakwah.blogspot.com
Semoga keyaqinan kita dapat terselamatkan sehingga tidak menjadi rusak karena hanya mengikuti mitos orang-orang Jawa
sekitar satu setengah tahun yg lalu… tanggal 8 january 2007 saya akad nikah di kediri… setelah itu tanggal 9 nya saya dan istri silaturrahim ke rumah orang tua saya di Pati-jateng.. dengan menempuh perjalanan via jombang-tuban lewat gunung pegat… tetapi Alhamdulillah.. nyatanya keluarga saya bukannya semakin berantakan, akan tetapi insya Allah bulan ini tambah satu orang lagi dalam keluarga saya…
Walloohu a’lam bishshowaab….
Subhanallah, maka ubahlah keyaqinan kita, bahwa yang memberi kebaikan dan keburukan hanya Allah Ta’ala, maka segala akibat dari mitos-mitos itu Insya Allah tak akan terjadi. Semoga pernikahan panjenengan tetap langgeng. Kuncinya apa yaaa. Selau lengket saja, ini yang pertama. Kedua bermusyawarah dalam segala urusan. Ketiga saling menyadari bahwa kita ada keterbatasan termasuk istri kita. Jangan dibuat masalah keterbatasan masing-masing. Keempat jang selingkuh tetapi harus setia. Slaing setia. dan lainnya
Di Jakarta gak ada gunung pegat, adanya gunung sahari. Nikah/cerai, akur/cekcok, hangat/dingin gak ada kaitannya dgn gunung pegat/sahari.
Ahhh, ini lebih gawat lagi. Apalagi mereka itu hanya cari popularitas saja. Kondisi kita semacam itu. Nahhh juga ingin seru ada tawaran nikah kontrak ala Syiah. Enak banget tuhhh.
Teman kantor saya pernah bilang, ketika nikah dulu dia juga lewat gunung Pegat. Yg laki dari Jombang, dan yg dia (perempuan) asli Lamongan. Pada saat arak-arakan temanten lewat daerah tersebut, kedua penganten melepas seekor ayam jago di kawasan itu. Katanya untuk tolak bala. Lucunya, si ayam jago kakinya diikat seutas tali. Sehingga kalaupun dilepas, masih bisa diambil lagi. Akhirnya tetap saja ayam jago dibawa pulang kembali. Lumayan kan, daripada beli ayam di pasar…
kalau gini ini, yg kasihan ayamnya atau kedua temanten itu ya?