Promosi Sekolah Via Hasil

Ustadz mengapa di sekolahan kami sulit berkembang?” demikian pertanyaan yang disampaikan setiap kami bershilaturrahim ke sekolah yang ada di pingiran. Tentu saja kami tidak langsung menjawab atas pertanyaan melas tersebut. Justru kami bertanya balik, “bagaimana cara bapak atau ibu memperkenalkan seluk beluk sekolah kepada masyarakat sekitar, yang terjangkau?” Walau sebenarnya kita dapat menebak jawabannya, namun sebagai pembuka diskusi sangat penting agar dapat berjalan dua arah. “Kita buat spanduk. Kadang-kadang foto copi pengumuman. Dan kami juga menulis pengumuman di papan pengumuman sekolah?”, demikian jawaban yang kuterima. ”Selama ini, bapak dan ibu merasakan telah memberi materi dan pengalaman belajar pada siswa dengan baik? Apakah selama ini bapak, ibu telah merancang program agar anak menjadi unggul dibanding teman sepermainannya? Apakah telah dirasakan hasil keunggulan yang telah Bapak, Ibu guru tanamkan?” pertanyaan inilah untuk mengawali diskusi agar memiliki persamaan persepsi.

Yang harus diwaspadai adalah perasaan bapak, ibu guru sendiri. Maksudnya selama ini sudah merasakan memberikan terbaik bagi anak-anak kita? Sudahkah yang dirancang bapak, ibu guru merupakan program unggul sehingga menghasilkan generasi unggul. Inilah cara pertama merubah sekolah agar berkembang dnegan baik dan unggul.

Pada tahun 1998, saat kami memperkenalkan program untuk TK kecil saat meningkat ke TK besar harus sudah bisa menulis surat ke kerabatnya dan mengantar surat tersebut ke kantor pos, ternyata mendapatkan tantangan luar biasa banyaknya. Nah apakah kemudian program keunggulan ini, saya hentikan? Tentu saja tidak. Kita harus memberi penjelasan kepada semua pihak yang menentang. Nah setelah dipahami oleh semua pihak, maka program keunggulan ini menjadi pemicu dan penarik minat sehingga kelas TK yang kami kelola pada tahun berikutnya dapat naik tiga kali lipat jumlah siswanya. Demikian juga saat kami memperkenalkan program keunggulan mampu hafal juz amma, mampu menghafal asama’ul husna, do’a sehari-hari dan program mandiri dalam sholat.

Kedua, kita beri bukti bukan janji. Bukti apa yang harus dilaporkan kepada para wali santri saat kita bertemu dengan mereka. Saat kita mengundang mereka. Saat mereka konsultasi. Saat mereka menerima hasil belajar. Nah pertanyaan kita yang harus dijawab adalah, ”bahan laporan apa untuk para wali santri saat mereka mendatangi kita?” Saya selalu mengajak agar kita merencanakan dengan matang laporan hasil belajar siswa tidak harus dilaporkan saat terima raport dan atau setelah ujian, setelah mid semester dan bentuk ujian lainnya. Namun kita harus mampu membuat model laporan hasil itu dapat diterima setiap saat. Hasil yang telah diserap santri harus dapat dirasakan oleh keluarga terkecil, tetangga dan semua yang mengenalnya. Karena itu, saya punya tips, ”hari ini belajar, hari ini ada peubahan dan ada hasil yang dapat dipetik. Mengapa harus menunggu hasil hingga lulus? Itu semua hanya tipuan halus para setan agar kita lalai dan teledor. Berikan laporan hasil setiap waktu, kapan saja di setiap kesempatan”

Ketiga, akui hasil yang telah dicapai oleh santri sekecil apapun. Ajaklah para wali santri untuk mengevaluasi hasil yang telah dicapainya. Dan sekaligus ajak merekan untuk membuat rancangan ke depan. Hubungan timbal balik terhadap hasil yang dicapai oleh pihak sekolah semacam ini akan menciptakan situasi yang sangat kondusif. Sehingga mampu memberi dukungan kepercayaan. Tugas selanjutnya terdokumenasikan. Terkomunikasikan ke masyarakat dan sekaligus dapat dipahami sebagai magnit agar sekolah mampu meningkat pamornya.

Keempat, bekerja keras untuk membuat renstrat pencapaian terbaik di setiap kurun waktu. Semisal pada tahun ini sekolahan kami harus mampu merebut juara sekoalh bersih di tingkat kecamatan. Tahun berikutnya tetapt dapat mempertahanakan dan mampu bersaing di tingkat kabupaten. Sekaligus pada tahun tersebut mampu menembus juara cerdas cermat di tiga besar. Dan lainnya. Dibuat secara baik di setiap kurun waktu. Renstrat yang tersusun secara baik tersebut kemudian dikomunikasikan kepada semua komponen. Harus dikomunikasikan. Harus, jika tidak tentu akan menemukan hambatan. Itu pasti.

Kelima, harus ada kemampuan mengurutkan pencapai hasil dari urutan terpenting hingga urutan tidak terlalu penting hanya penunjang saja. ”Bagaimana cara membuat urutan pencapaian hasil tersebut?” inilah pertanyaan yang harus dijawab.

Faktor apa saja yang harus diperhatikan agar tepat sasaran dan baik?”

Dengan cara apa dan bagaimana kita harus mengevaluasi?”

Siapa yang harus dilibatkan?”

Adakah masa uji coba?”

adakah model yang telah berhasil?”

Harus berkonsultasi kepada siapa?”

Manfaat apa?”

Kalau tidak mengikuti dan membuat, adakah sanksi untuk para bapak, ibu guru. Adakah dampak negatif?”

Keenam, melibatkan pihak ketiga. Siapa pihak ketiga? Tentu saja para pengamat pendidikan. Tokoh masyarakat. Tokoh agama dan media. Saat kami diamanahi untuk mengelola lembaga pendidikan Rahmat Kediri, maka diawal tahun kami telah mengkomunikasikan kepada salah satu media masa lokal. Alhamdullah ada sambutan yang sangat baik. Hasilnya luar biasa. Terdapat percepatan. Demikian pula peran pihak ketiga selain media masa. Nahhhh, untuk membuat optimal peran pihak ketiga ini, maka pihak sekolah harus memberi data-data hasil yang telah dicapainya.

Ketujuh, Istiqomah, Serius dan Iklas. Ini merupakan motto yang kugunakan untuk membangun kualitas pendidikan agar mampu menghasilkan hasil terbaik. Melalui motto tersebut akan didapatkan energi yang menyala terus tiada padam.

Kedelapan, lakukan pengamatan potensi anak didik secara cermat. Tempatkan dan kobarkan potensi secara tepat. Semua anak didik memiliki potensi hebat. Namun akan mampu lebih hebat, jika mereka memilik guru yang hebat pula dalam mendapingi dan melatih serta memelecitkan potensi tersebut.

Nah, sementar ini dulu. Insya Allah lain kali dapat kita sambung. Semoga kita mampu mewujudkan generasi mBeneh.

Tidak Ada Komentar

No comments yet

Leave a reply