Reuni Pena UAKI UNIBRAW

Jum’at kemarin, Jam 15.10, saya sedang asyik entri data untuk kebutuhan ziaroh ke Hadramaut Yaman, Mekkah dan Madinah, tiba-tiba dari arah belakang Ustadz Mukhlison menyerahkan sebuah buku dengan sampul muka gambar akhowat dan ikhwan dengan jumlah sangat banyak.

“Mas, ada titipan untuk jenengan dari mBak Lala,” demikain ucap dia saat menyerahkan buku tersebut.

“Jazakumullah, lhooo khok untuk saya?” demikian aku balik bertanya.

“Yaaa untuk kenangan, katanya, ” demikian jawabnya.

Karena saya ditarget harus menyelesaikan entri data yang harus segera difaks ke PT Alisan (PT Alamin Ahasan Tour), maka buku yang sangat tebal, warna sampul hijau itu kubiarkan tergelatak saja di samping komputer kerjaku.


Saat di kendaraan, kubuka buku yang mampu membuka kenangan sekian tahun yang silam. Mulai kutelusuri. Kumulai dari pengantarnya. Yang ditulis oleh mBak Lala. Wahhh hebat dan super hebat. Masih ada kader yang saat ini berdomisili jauh dari pusaran gerakkan, namun meluangkan waktu dan memberi segala yang dimiliki untuk kemanfaatan teman-temanya.

Kalau saya boleh bertanya, “apa keuntungan yang akan diperoleh oleh mBak Lala dengan kerja keras tersebut?” “Apa yang ingin dibangun sehingga harus menghabiskan sekian juta rupiah?”

Mungkin sebagian orang menyalahkan mBak Lala, karena agak gatek komputer, maaf yaaa jika kusebut demikian. Sehingga komputernya tidak bersahabat dengan dirinya saat harus deadline. Mungkin juga ada yang memandang ide dan kerja itu sia-sia. Buang-buang waktu dan sederat sikap meremehkan.

Namun bagi saya ada sederet pembelajaran kehidupan dan sekaligus ruang untuk rancangan masa depan pergerakkan dakwah pasca kampus. Saya sangat memberi acungan jempol jika dari kota kecil Lumajang, di lereng Gunung Bromo ada yang mau mengumpulkan teman-temanya yang berserakkan di negeri kita.

Selesai membaca pengantar, saya mendapatkan tambahan energi agar tidak ada putus asa. Saya semakin yaqin, bahwa kemudahan hanya dapat dirasakan setelah kita mengerti itu sulit. Bagi orang lain mungkin tidak sulit tetapi bagi mBak Lala, komputer mati itu qiyamat.

Tidak terasa kendaraanku sudah nyampek depan rumahku di Kediri. Saya hanya menelusuri kehebatan para kader kita. Saya hanya menyimpulkan, “adakah yang peduli setelah terkumpul data yang apik ini untuk membangun negeri kita dengan peradapan Masjid Raden Patah?”

Dan kalau boleh saya juga mengajukan pertanyaan, “seberapa sibuk mereka yang tidak mau membalas SMS mBak Lala. Dan atau enggan memenui janjiannya untuk mengirim tulisan atau apa saja?” Mohon maaf pada Akhina Muwafiq yang saya baca berjanji untuk kirim tulisan, tetapi tidak ada apa-apanya? Saya juga mencari teman-teman lainnya yang belum ada di reuni pena, ke mana mereka?

Saat pintu mobil kubuka, saya telah selesai membaca cerita yang cukup menjadi inspirasi agar kita para suami untuk memberdayakan isteri-istri kita. Mbak Maya dengan detail menggambarkan perjuangan Mas Kabul Abdillah hingga akhirnya menanti belaian do’a kita semua. Mas Kabul Abdillah telah mengukir prestasi untuk mewujudkan tanggung jawab dengan segala cara agar tidak menjadi beban orang lain.

Saat, aku nulis ini hanya tertawa ketika ingat tulisan mbak Lala, tentang poligami di buku reuni pena tersebut. Nahhhh, mBak Lala sungguh-sungguh mengajarkan pada para akhowat agar menjadi akhowat yang cerdas saat menghadapi para suami yang akan berpoligami. Mohon maaf jika saya salah tulis, karena buku tersebut kutinggal di rumah, saat nulis ini saya di sekolah “Boleh poligami sepanjang calon istri itu cocok denganku”, demikian tulisan mBak Lala. Nahhhh, adakah suami yang mau dengan syarat ini? Saya kira sulit lhooo. Karena itu cara lain, dari para istri untuk mengatakan kepada para suaminya untuk tidak boleh berpoligami. Karena mBak Lala, cerdas maka diungkapkan secara cerdas pula. Maaf yaaa, jika salah menilai.

Walau demikian saya teringat tulisan kader kita yang masih lajang. Usia sudah matang masih lajang. Hebatnya juga secara cerdas membuat solusi untuk memberi terbaik saat masih lajang. Semisal merawat dan memberdayakan anak-anak dhuafa’, anak yatim dan mungkin aksi sosial lainnya. Namun menurutku, jika ada ikhwan yang telah diberi restu oleh istrinya untuk menjadi tambatan dan tempat berlabuh para akhowat yang harus berjuang untuk segala angan tersebut, kenapa tidak di rajut. Yaaa, mak comblangnya yaaa, yang menerbitkan reuni pena. Apalagi Mas Agung juga kompak memberi dukungan. Ayoooo, mak comblang bangkit dan bergerakklah.

Saya juga meraskan betapa hebatnya misteri hidup ini, saat menelusuri tulisan dari Mr X, angkatan X dan halaoqh X. Kejujuran dan harus ada solusi. Menutupi dirinya hanya akan menghukum dia sendiri. Menurutku justru Antum harus membuka diri saat seperti itu. Mengapa Antum malu pada saudara Antum yang Insya Allah ada yang akan membawa terbang Antum. Sementara saat Antum malu tidak mau mengungkap diri, Antum tetap dalam pengawasan Allah Ta’ala beserta para malaikatnya. Nah masih ada waktu untuk mengkomunikasikan pada semua shohabat Antum yang tergabung di reuni pena UAKI Unibraw.

Misteri kehidupan ini juga diungkapkan oleh mBak Lela dan Mas Aziz. Luar biasa dalam memperjuangkan kehidupan agar tetap dalam idealisme. Saya merasakan, bahwa di balik usaha keras dan iktiar maka Allah Ta’ala memiliki rencana tersendiri bagi kita semua. Demikian pula miseri kehidupan yang akan kita temukan di tlisan temen-temen lainnya. Mas Hakim yang kangen momongan akhirnya dapat mencitai anak-anak di TPQ sehingga menjadi guru tersabar, tertelaten dan sangat dicintai anak-anak. Itulah misteri kehidupan. Mari temukan di reuni penag untuk menyongsong masa depan lebih baik. Dan sekian banyak yang tidak kuingat saat nulis. Ada photo dan ada gambar yang sangat membantu ingatan kita. Hanya saja gambar Masjid Raden (Mas) Patah tidak ditampakkan.   

Jazakumullah mBak Lala,

Semoga ada jilid dua, tiga, empat dan seterusnya

Akhowat dan Ikhwan lainnya yang tidak ada di dalamnya semoga segera ditemukan.

Yang tidak mau dan atau masih belum sempat nulis, ayooo sempatkan. Ada kebaikkan yang dapat dipetik di setiap kata yang Anda tulis.

Semoga UAKI Unibraw dapat terus memberi warna dakwah di Kampus Unibraw. Saya yang tidak termasuk alumni tetapi sering bertemu dan berkumpul karena cinta kami pada saudara muslim. Mohon maaf bila ada yang kurang dari komentarku ini. Khusus Akhina, Muwafiq, mohon maaf yaaa, kusebut sebagai contoh.

salam dari kami yang memiliki kedekatan emosi dengan pergerakkan kampus pada periode awal hingga mBak Lala

2 komen sejauh ini

  1. umi on Selasa, April 22, 2008

    Baru tahu sy,kalo Pak Imam kasih tanggapan ttg reuni pena UAKI. Saya sebagai anggota reuni, sangat merespon positif karya Dik Lala (dan bbrp pihak) ini. Banyak manfaat yang bisa kita ambil.. Saya usulkan ke Dik Lala, ayo Dik buat lagi. Apa dia bilang “kapok Mbak”.Tp semoga kapok lombok saja… Setelah sirna kekesalan dan kelelahan, akan ada energi untuk mengumpulkan yang terserak dari temen-temen yang bbrp tahun yang lalu terjun bebas, membawa sekarung idialisme dari kampus.. T kasih Ustadz atas supportnya. Semoga Allah memudahkan urusan-urusan kita. Amin


    Sama-sama, saya lihat ada energi yang terkumpul. Jangan lupa internet meupakan sarana termurah dalam menjalin komunikasi. Semoga bermanfaat. Supaya semua dapat bergerak dan berupaya untuk ambil peran. Ambil peran yang terbaik dan peran untuk membangun kekuatan para mantan. Jalin terus komunikasi dan koordinasi. Ada baik untuk dimulai membangun kekuatan pasca kampus. Nah setelah ada reuni pena, maka saatnya jalin upaya membangun komunikasi bisnis.

  2. Tri Hartanto on Rabu, Juni 25, 2008

    kalau saya hanya iri saja mas. Kalau yang lain dihujani dgn sms dan email ttg permohonan tulisan, saya hanya dikirimi satu kali sms dan imel ttg hal tersebut. Email pun tak terlacak lagi ketika ganti outlook ke eudora.
    Makanya ketika Lala tanya “kenapa gak ikut reuni pena mas?” Saya malah balik tanya “Oh ya, kapan acaranya? Rame gak yg datang?” He..he.. Gak nyambung banget ya.
    Tapi saya harus kasih 2 thumb up ke Lala. Semoga nanti di reuni fisik bulan Juli segala keterbatasan reuni pena jadi tertutup.
    Mas Imam bisa datang gak?


    Saya tidak dapat undangan. Saya hanya membantu doa agar semua lancar. Semoga reuni fisik tahun ini dapat memberi manfaat untuk perencanaan dakwah dan perjuangan ke depan. Jazakumullah ahsanu jaza’

Leave a reply