Seberapa Hebat Kartini Itu?

 

 

Saya empat bulan yang lalu ada kesempata surve lahan tanah 1.4 ha untuk direncanakan pesantren di daerah Jepara. Saya ambil kesempat yang baik itu untuk menelusuri daerah kelahiran Kartini yang saat ini dipuja-puja. Nah, saya mencoba bertanya kepada penduduk asli sana. Tentu saya kaget ketika para penduduk asli sekitar makam dan sekitar tempat kelahiran Kartini tidak banyak paham sepak terjang sosok besar pahlawan emansipasi Kartini. Saat itu, saya bertanya “seberapa hebatnya Kartini sehingga dijadikan tokoh?” Nahhh, darimana saya harus memulainya?

 

Saya mulai dari kondisi para wanita di Jepara saat ini. Di sana para wanitanya banyak yang menghabiskan waktunya untuk menjadi tenaga kasar di pabrik mebel dan bahkan di pabrik rokok. Pendidikan yang dikenyamnya juga sangat rendah. Setelah saya ngobrol panjang lebar dengan para penduduk asli di Jepara mereka tidak memiliki kesempatan belajar karena kondisi dan kebiasaan untuk membantu ekonomi keluarga. “Di sini para wanita sering ambil peran dalam membantu ekonomi keluarga”, demikian ungkap mereka.

 

Nah, jika kita memandang bahwa Kartini yang lahir di Jepara belum mampu memberi peran dan tapak tilas dalam mengupayakan para wanita Jepara, lantas peran hebat Kartini itu apa. Demikian pertanyaanku yang tidak kitemukan jawaban dari para wanita Jepara.

 

Sepulang dari Jepara, saya mencoba mencari literature hasil karya Kartini. Saya tidak mendapatkan kecuali hanya kumpulan surat. Seperti surat yang dikirim ke Stella yaitu Estelle Zeehandelaar (25 Mei 1899). Seorang belanda yang punya pandangan feminis dan sosialis. Dari koresponden inilah diketahui tentang sosok Kartini. Oleh pemerintah Belanda dijadikan isu besar dan kemudian dipublikasikan. Melalu cara inilah ketokohan dibangun. Setelah menelusuri sekian panjang lebar latar belakang Kartini, saya menemukan simpulan bahwa dia memang diangkat menjadi tokoh besar oleh kekuasaan Belanda dan atau promosi Belanda. Salahkah yaaa simpulan ini. Karena saya tidak menemukan gerakkan dari Kartini yang melakukan berontak, perang dan penentangan terhadap Belanda. Berati di mana letak kehebatan Kartini? Inilah yang masih dalam pertanyaanku.

 

Kenapa yang dijadikan tokoh-tokoh emansipasi tidak para pejuang yang benar-benar bergerak melakukan pertentangan terhadap penjajah. Bahkan tokoh-tokoh yang lebih hebat saat pergerakkan kemerdekaan sangat banyak. Mereka meninggalkan rumah untuk bergerilya dan menentang Belanda. Mengapa harus Kartini? Salahkah pertanyaanku ini? Ketika akan memasuki tanggal 21 April, saya selalu bertanya kepada temen-teman, “apa yang akan Anda peringati saat tanggal 21 April?”

“Hari Kartini,” demikian jawabannya

“Lantas makna yang akan Anda berikan ke generasi saat ini apa?” tanyaku

Teman-teman diam. Sulit menguangkapkan. Tiba ada yang nyeletuk, “yaaa kita beri kebaya.”

Hari Kartini samakah dengan hari kebaya nasional? Hari ini semua koran dan media lainnya memberitakan bahwa untuk mengekspresikan dan mengaktualisai hari Kartini dengan memakai kebaya. Beberapa waktu di harian lokal diberitakan ada ibu-ibu dikumpulkan diajak senam dengan kebaya. Ibu-ibu nyopir dengan kebaya. Dan ada juga ibu-ibu yang keras keras banting tulang dijuluki Kartini masa kini. Kalau demikian, saya selaku pendidik ini akan meneladani apanya? “Yang harus saya ambil dari perjuang Kartini, apa?”, demikian pertanyaanku terus kuulang-ulang agar dapat menemukan jawab yang tepat.

“Yaaa, jika sebagai seorang wanita harus rela dimadu, diselir seperti Kartini”, sindir temen diskusiku saat akan menggelar peringatan Hari Kartini.

“Kenapa harus mengangkat masalah yang sangat tidak enak didengar ini?” tanyaku.

“Emang kita ini generasi Kartini, yang harus siap diselir” jawab mereka serempak.

“Jangan jangan angkat tema ini, nanti kita senasib dengan Aa Gym”, bela yang lain.

“Lantas apa?”, tanyaku lagi

“Pendidikan, gimana kalau ini yang kita angkat”, tawarku

“OK, setuju” jawab mereka serempak.

“Ahhh, terlalu umum. Pendidikan itu hak dan kavling Ki hajar Dewantoro” potes seorang yang sejak tadi hanya diam.

“Lantas, apa?” tanya mereka serempak.

“Yaaa, emansipasi” bela yang menolak tema pendidikan tersebut.

“Emansipasi wanita”

“Karena Kartini merupakan tokoh emansipasi wanita”. Tambahnya

Semua setuju. Setelah menjelang pelaksanaan mereka para wanita juga bingung bagaimana mengekspresikan emansipasi wanita menurut konsep Kartini? Wal hasil hanya ditemukan berpakain kebaya.  

1 Komentar sejauh ini

  1. ubadbmarko on Selasa, April 22, 2008

    ih, bener bener kemaren tanggal 21 pegawai kantoran perempuannya pada pake kebaya, kalo tiap hari bagus tuh.
    Salam buat mbk mawar, selamat berjuang.


    Bagus, bagus banget jika berkaya yang nutup aurot dan prilakunya penuh kesopanan. Namun jika dengan kebaya memamerkan aurotnya (maaf, dada dan buahnya) yaaa jadi pandangan yang menggiurkan lhoooo. Salam kenal balik.

Leave a reply