Mengenal Nabi Kita (1)

Abuya Sayyit Muhammad Alawi Al Mailki telah mengurai keutamaan Nabi Muhammad sholallah alahi was salam sebagai berikut:

Nasab Nabi Muhammad Sholallah alahi was salam
Nasab Rasulullah sholallah alahi was salam adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdil Manaf bin Qusyai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan dan seterusnya sampai kepada Nabi Ibrahim alaihis salam.

Kelahiran Nabi Muhammad Sholallah alahi was salam
Rasulullah sholallah alahi was salam dilahirkan pada hari Senin bulan Rabi’ul Awwal tahun Gajah. Ada yang meriwayatkan bertepatan dengan tanggal 2 namun ada riwayat lain yang menyatakan tanggal 3, akan tetapi pendapat yang paling masyhur menurut Jumhurul ulama adalah tanggal 12 Rabi’ul Awwal.
Selama ibu baginda Rasulullah sholallah alahi was salam mengandung, tidak sedikitpun merasa berat maupun ngidam. Akan tetapi sebagian ulama mengatakan bahwa dia merasa sedikit berat hanya ketika mulai mengandung saja, namun setelah itu, dia merasakan penuh kemudahan dan keringanan. Bahkan, Rasulullah sholallah alahi was salam dilahirkan tidak seperti manusia-manusia lainnya. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau sholallah alahi was salam lahir dalam keadaan telah terkhitan dan tali pusatnya terpotong bersih sambil menggenggam jari jemarinya dan memberi isyarat dengan jari telunjuknya seperti orang yang sedang bertasbih. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kakeknyalah yang telah mengkhitankan beliau pada hari ketujuh dari kelahirannya.
Para ulama berbeda pedapat tentang masa baginda Rasulullah sholallah alahi was salam berada dalam kandungan ibunya, diantara pendapat terkuat adalah bahwa beliau berada dalam kandungan ibu selama 9 bulan.
Hari Senin adalah adalah hari yang penuh berkah. Imam Ahmad Ibnu Hambal meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas ra,
“Dia berkata bahwa Rasulullah sholallah alahi was salam dilahirkan pada hari Senin, beliau sholallah alahi was salam diangkat menjadi rasul juga pada hari Senin, beliau sholallah alahi was salamw keluar untuk berhijrah dari Mekkah ke Madinah juga pada hari Senin dan sampai di Madinah al-Munawwarah juga pada hari Senin, beliau sholallah alahi was salam wafat juga pada hari Senin dan beliau sholallah alahi was salam mengangkat Hajar Aswad (ketika Ka’bah di bangun kembali oleh orang-orang Quraisy) juga pada hari senin.”
Pada malam kelahiran Rasululah sholallah alahi was salam terjadi berbagai macam keanehan dan keajaiban, di antaranya adalah robohnya patung-patung yang ada di sekililing Kabah.
Bersama kelahiran beliau sholallah alahi was salam pula, muncul cahaya yang sangat terang sehingga dapat menerangi istana-istana yang ada di negeri Syam (Syiria pada saat ini).
Di antara keanehan dan keajaiban yang lain adalah adanya goncangan yang amat dahsyat meluluhlantahkan istana Kaisar Persia dan menhancurkan beranda-berandanya. Api persembahan mereka yang belum pernah padam selama seribu tahun tiba-tiba padam. Danau yang biasa meluap seketika itu surut. (sebuah danau yang sangat besar di wilayah Persia).

Yang Mengasuh dan Menyusui Nabi Muhammad Sholallah alahi was salam
Orang yang pertama kali menyusui Nabi Muhammad sholallah alahi was salam adalah ibunya sendiri Aminah az—Zurriyah, setelah itu beliau sholallah alahi was salam disusui oleh Tsuwaibah al-Aslamiyah selama beberapa hari. Tsuwaibah al-Aslamiyah adalah salah seorang budak wanita Abu Lahab yang dibebaskan ketika dia menyampaikan berita gembira tentang kelahiran Nabi Muhammad sholallah alahi was salam kepadanya, sehingga dengan itu, maka Allah Swt meringankan siksaan atasnya. Hal itu sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam sebuah hadits Muallaq bahwa setelah Abu Lahab meninggal dunia seseorang mimpi bertemu dengannya, lalu dia memberitahu kepadanya bahwa dalam setiap hari Senin dia telah diringankan siksaannya oleh Allah Swt karena memerdekakan budaknya Tsuwaibah sebagai tanda kegembiraannya terhadap kelahiran Nabi Muhammad sholallah alahi was salam.
Ibnu Mandah salah seorang ahli tafsir terkemuka telah memasukkan Tsuwaibah dalam kategori sahabat, namun para ulama telah berbeda pendapat tentang hal itu.
Nabi Muhammad memberikan penghormatan yang baik terhadap Tsuwaibah al-Aslamiyah. Terbukti ketika Tsuwaibah al-Aslamiyah mengunjungi beliau setelah menikah dengan Khadijah radhiallahuanha, demikian pula dengan Sayyidah Khadijah ra. Begitu pula setelah Rasulullah sholallah alahi was salam hijrah ke Madinah beliau juga mengirimkan pakaian dan uang padanya hingga dia meninggal dunia.
Setelah itu Nabi Muhammad sholallah alahi was salam disusui oleh Halimah binti Abi Dhuaib as-Sa’diyah. Nabi Muhammad sholallah alahi was salam dibawa oleh Halimah ke desanya di Bani Sa’ad yaitu sebuah desa di wilayah Thaif. Menurut pendapat yang benar bahwa Rasulullah sholallah alahi was salam tinggal di sana selama empat tahun. Selama mengasuh Nabi Muhammad sholallah alahi was salam, Halimah dan keluarganya dianugerahi oleh Allah Swt rizki yang melimpah dan kehidupan yang sejahtera. Syaima’ adalah puteri Halimah as-Sa’diyah yang turut bersama ibunya mengasuh baginda Rasulullah sholallah alahi was salam. Selanjutnya Halimah as-Sa’diyah mengembalikan Nabi sholallah alahi was salam kepada ibunya karena takut terhadap peristiwa pembedahan dada yang terjadi padanya ketika Nabi Muhammad sholallah alahi was salam berusia empat atau lima tahun.
Setelah itu, Halimah as-Sa’diyah tidak lagi pernah melihat Nabi Muhammad sholallah alahi was salam kecuali hanya dua kali, yaitu yang pertama, setelah Nabi Muhammad sholallah alahi was salam menikah dengan Sayyidah Khadijah ra, dia datang kepada beliau sholallah alahi was salam dan mengadukan kepadanya tentang paceklik yang menimpa negerinya. Pada waktu itu Sayyidah Khadijah ra memberikan 20 ekor kambing dan hadiah-hadiah yang lainnya. Dan yang kedua yaitu pada saat terjadinya perang Hunain.
Di samping itu, Nabi Muhammad sholallah alahi was salam juga pernah diasuh oleh Ummu Aiman Barakah al-Habasyiah, dia adalah bekas budak perempuan ayah Rasulullah sholallah alahi was salam, namun setelah Rasulullah sholallah alahi was salam dewasa, dia dibebaskan oleh beliau dan dinikahkan dengan Zaid bin Haritsah.

Masa Pertumbuhan Nabi Muhammad Sholallah alahi was salam
Nabi Muhammad sholallah alahi was salam dibesarkan dalam keadaan yatim. Ayahnya meninggal dunia pada saat beliau sholallah alahi was salam masih berada dalam kandungan ibunya. (Inilah pendapat yang paling masyhur yang dipilih oleh Ibnu Katsir dan lain-lain karena ada pendapat lain yang yang mengatakan bahwa ayah Nabi sholallah alahi was salam meninggal ketika Nabi sholallah alahi was salam berusia dua puluh delapan bulan. Dan pada saat itu ayahnya berusia dua puluh lima tahun, demikian menurut pendapat yang benar.) Sepeninggal ayahnya semua biaya hidup Nabi Muhammad sholallah alahi was salam ditanggung oleh kakek beliau yang bernama Abdul Muthalib.
Pada saat berusia enam tahun, beliau sholallah alahi was salam diajak pergi oleh ibunya ke kota Yatsrib (Madinah al-Munawwarah) untuk mengunjungi keluarga bibi-bibi beliau dari Bani Najjar. Di sana beliau tinggal bersama mereka selama satu bulan. Setelah itu, barulah mereka kembali. Namun dalam perjalan pulang ibunya sakit yang menyebabkannya meninggal dunia, sehingga sekaligus dimakamkan di desa Abwa’. Beliau pulang bersama Ummu Aiaman yang kemudian menyerahkan Nabi sholallah alahi was salam pada kakeknya Abdul Muthalib.
Ada riwayat lain yang mengatakan bahwa setelah meninggal dunia, jenazah ibunya sempat dibawa pulang ke Mekkah dan dimakamkan di sana. Demikian menurut Ibnu Jauzi dalam kitab Al-Wafa’.
Kakek beliau sholallah alahi was salam wafat pada saat beliau sholallah alahi was salam berusia 8 tahun. Setelah itu, Nabi Muhammad sholallah alahi was salam diasuh oleh paman beliau Abu Thalib sesuai dengan wasiat kakeknya.
Sejak saat itu Abu Thalib menjadi pengasuh dan pelindung Nabi Muhammad sholallah alahi was salam dari musuh-musuh beliau. Abu Thalib juga sangat mencintai Rasulullah sholallah alahi was salam. Kehidupan Abu Thalib sangat miskin, namun Allah Swt telah melimpahkan keberkahan dan kemakmuran kepadanya berkat pengasuhannya terhadap Nabi Muhammad sholallah alahi was salam.
Ketika berusia 12 tahun, beliau sholallah alahi was salam dibawa oleh pamannya Abu Thalib ke Syam untuk berdagang, namun dia segera memulangkannya kembali karena takut terhadap apa yang akan dilakukan oleh orang-orang Yahudi kepadanya sebagaimana peringatan Pendeta Bukhaira kepada Abu Thalib.
Kemudian yang kedua kalinya adalah ketika Rasulullah sholallah alahi was salam pergi bersama Maisarah budak Khadijah ra untuk membawa barang dagangan ke Syam. Pada waktu itu Rasulullah sholallah alahi was salam berusia 25 tahun. Kebetulan malam tanggal 16 Dzul Hijjah, ketika Rasulullah sholallah alahi was salam singgah di bawah sebuah pohon, seorang pendeta mendekat seraya berkata, “Tidak ada orang yang singgah di bawah pohon ini kecuali dia adalah seorang nabi.”

Keadaan Nabi Muhammad Sholallah alahi was salam sebelum Diutus
Sebelum diutus menjadi nabi, Rasulullah sholallah alahi was salam adalah seorang hamba yang taat beragama dan gemar beribadah. Beliau sholallah alahi was salam benci terhadap berhala dan hal-hal yang haram, disamping itu, beliau juga seorang penggembala domba. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Rasulullah sholallah alahi was salam bersabda:

“Allah Swt tidak mengutus seorang nabi kecuali dia pernah menggembala domba. Lalu seorang bertanya kepada Beliau, “Apakah engkau juga?” Maka Rasulullah sholallah alahi was salam menjawab, “Ya.”.
Sebelum diutus menjadi nabi, Rasulullah sholallah alahi was salam juga pernah berdagang. Diantara salah seorang yang pernah menjadi rekanan beliau sholallah alahi was salam adalah Saib Abi Saib. Oleh karena itu, pada saat pembukaan kota Mekkah Rasulullah sholallah alahi was salam berkata kepadanya:
مَرْحَبًا بِأَخِي وَشَرِيْكِي

“Selamat datang, wahai saudara dan rekananku.”
Dan di dalam berdagang Rasulullah sholallah alahi was salam tidak pernah menipu maupun menyakiti orang lain.
Disamping itu, Rasulullah sholallah alahi was salam juga telah melakukan perniagaan ke Syam dengan membawa barang dagangan milik Sayyidah Khadijah ra, dan beliau sholallah alahi was salam pulang dengan membawa keuntungan yang sangat banyak, sebuah keuntungan yang tidak terbanyangkan sebelumnya. Pada saat itu usia beliau sholallah alahi was salam adalah 25 lima tahun.

4 komen sejauh ini

  1. linda on Minggu, Mei 4, 2008

    kenapa sih kok setan takut ma nraka, padahal asalnya kan dari api, toh nraka juga api…?


    Karena panas api yang membentuk setan dengan panas api neraka berbeda. Panas api yang membentuk setan tidak lebih panas dari api neraka. Api neraka sangat luar biasa panasnya. Jika Anda tertipu oleh setan maka segera bertaubatlah agar tidak terjerumh di neraka. Suwun yooooo

  2. mediabilhikmah on Senin, Mei 12, 2008

    Saudara Linda mungkin udah kebal api? Saudari linda terbuat dari apa? Api atau tanah? Kalau dari api apa dong?


    Emang sering kali kita melihat saudara kita mewakili suara makluk yang tercipta dari api. Bahkan kadang-kadang jadi antek-anteknya

  3. madotz on Selasa, Mei 13, 2008

    kenapa sih kok setan takut ma nraka, padahal asalnya kan dari api, toh nraka juga api…? <— gini loh …manusia terbuat dr tanah …. manusia bs jg kan meninggal .. tertimbun oleh tanah ….so simple …unsur bole sama .. tp bkn berarti .. gak terluka .. sm unsur yg sama …


    Pertanyaannya emang lucu, saya hanya tersenyum aja, kenapa harus posing?

  4. bisma on Rabu, Mei 21, 2008

    kenapa sih anjing itu kok najis kok kucing tidak padahal kan anjing itu pintar bisa diajak berteman


    Orang kafir itu juga dihukum najis oleh Islam. Samakah orang kafir dengan anjing. Atau dasar orang kafir itu seperti anjing.

Leave a reply