Mengenal Nabi (6)
Isteri-Isteri Nabi Muhammad Sholallah alaihi was salam
Isteri-isteri Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam adalah sebagai berikut :
Khadijah binti Khuwailid ra. Beliau telah hidup bersama Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam sejak 15 tahun sebelum turun wahyu hingga tiga tahun sebelum Nabi sholallah alaihi was salam hijrah ke Madinah dan beliau wafat di sisinya.
Saudah binti Zam’ah ra. Beliau hidup bersama Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam hingga lanjut usia. Suatu saat Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam hendak menceraikannya, namun akhirnya dia rela untuk memberikan giliran harinya untuk ‘Aisyah ra dan dia berkata, “Wahai Rasulullah sholallah alaihi was salam, aku sudah tidak lagi memiliki ghirah terhadap laki-laki, namun aku ingin agar kelak di akhirat dikumpulkan bersama isteri-isteri engkau.”
Di antara salah satu keistimewaannya adalah dia pernah menjadi isteri tunggal Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam selama tiga tahun setelah meninggalnya Khadijah dan dia meninggal dunia pada tahun lima puluh lima Hijriyah.
‘Aisyah binti Abi Bakar ra. Beliau menikah dengan Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam di Mekkah 2 tahun sebelum hijrah. Menurut sebagian riwayat 3 tahun sebelum hijrah. Pada saat itu ‘Aisyah berusia 6 atau 7 tahun dan beliau tinggal bersama Nabi di Madinah dalam usia 9 sembilan tahun.
Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam meninggal dunia dalam pangkuannya dan pada saat itu ‘Aisyah berusia 18 tahun.
‘Aisyah ra meninggal dunia pada tahun 58 Hijriyah, namun menurut sebagian riwayat bukan pada tahun itu dan Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam tidak pernah menikah dengan seorang gadis kecuali dengannya dan dia dijuluki dengan Ummu Abdillah (karena dia telah memelihara Abdullah bin Zubair, putera Asma’ saudara perempuan ‘Aisyah, isteri Zubair bin Awwam).
Hafshah binti Umar bin Khathab ra. Diriwayatkan bahwa pada suatu saat Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam hendak menceraikannya, lalu Jibril datang kepadanya dan berkata, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkanmu untuk kembali kepada Hafshah karena dia adalah wanita ahli ibadah dan berpuasa.” Dalam hadits yang lain dijelaskan bahwa kembalinya Nabi sholallah alaihi was salam kepada Hafshah adalah sebagai tanda kasih sayang Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam kepada Umar bin Khathab ra.
Hafshah bintu Umar bin Khathab meninggal dunia pada tahun 45 Hijriyah, namun menurut riwayat yang lain bukan pada tahun itu.
Ummu Habibah binti Abi Sufyan ra. Beliau menikah dengan Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam ketika berada di Habasyah dan mas kawinnya adalah uang sebanyak empat ratus dinar, hadiah dari raja Najasi kepada Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam dan yang menjadi wali dalam pernikahan tersebut adalah Utsman bin Affan ra.
Ummu Habibah meninggal dunia pada tahun 4 Hijriyah.
Ummu Salamah Hindun binti Umayyah ra. Beliau meninggal dunia pada tahun 62 Hijriyah. Dia adalah isteri Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam yang paling terakhir meninggal dunia, akan tetapi menurut riwayat yang lain bahwa isteri Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam yang paling terakhir meninggal dunia adalah Maimunah ra.
Zainab binti Jahasy ra. Beliau meninggal dunia di Madinah pada tahun 20 Hijriyah. Dia adalah isteri Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam yang pertama kali meninggal dunia setelah beliau sholallah alaihi was salam dan orang pertama yang mayatnya dibawa dengan keranda.
Juwairiyah binti al-Harits ra. Beliau adalah salah seorang tawanan perang dalam ghazwah Bani Mushthaliq, lalu Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam membebaskan dan menikahinya. Dia meninngal dunia pada tahun 56 enam Hijriyah.
Maimunah binti al-Harits ra. Beliau adalah bibi Khalid bin Walid dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Dia adalah wanita terakhir yang dinikahi oleh Rasulullah sholallah alaihi was salam dan dia wafat pada tahun lima puluh satu Hijriyah, akan tetapi dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa beliau meninggal dunia pada tahun 66 Hijriyah.
Shafiyyah binti Huyai bin Akhthab ra, seorang wanita Yahudi dari keturunan Nabi Harun as. Beliau adalah salah seorang tawanan dalam perang Khaibar, lalu Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam memerdekakan dan menikahinya.
Rasulullah sholallah alaihi was salam telah menjadikan kemerdekaannya itu sabagai mahar dalam pernikahan tersebut dan beliau wafat pada tahun lima puluh Hijriyah.
Zainab binti Khuzaimah ra, seorang wanita yang dikenal dengan nama Ummul Masakin (ibunya orang-orang miskin). Rasulullah sholallah alaihi was salam telah menikah dengannya pada tahun 3 Hijriyah, namun usia pernikahan tersebut berjalan tidak lama, karena hanya dalam waktu dua atau tiga bulan dia meninggal dunia.
Demikianlah isteri-isteri Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam yang telah bergaul dan hidup bersama beliau sholallah alaihi was salam sesuai dengan dalil-dalil yang kuat.
Makam mereka sangat terkenal yaitu di Baqi’ kecuali Sayyidah Khadijah ra dan Sayyidah Maimunah ra. Sayyidah Khadijah ra dimakamkan di Hujun Mekkah sedangkan Sayyidah Maimunah ra dimakamkan di Wadi Sarif, salah satu lembah dekat Mekkah.
Disamping itu, Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam juga pernah menikah dengan Fathimah binti Dhahhak. Namun ketika turun ayat Tahyir (perintah kepada isteri-isteri Nabi sholallah alaihi was salam untuk menentukan pilihan yakni Nabi sholallah alaihi was salam atau dunia), dia justru memilih dunia, dari pada Rasulullah sholallah alaihi was salam, maka Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam menceraikannya.
Setelah peristiwa tersebut dia jatuh miskin, bahkan karena begitu miskinnya hingga sampai mencari sisa-sisa makanan di tempat-tempat sampah, dan dia mengatakan, “Aku adalah orang yang paling celaka, karena aku telah memilih dunia dan meninggalkan Rasulullah sholallah alaihi was salam.”
Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam juga pernah menikah dengan Syaraf saudara prempuan Dahiyah al-Kalabi ra.
Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam juga pernah menikah dengan Khaulah binti al-Hudzail. Dalam riwayat yang lain disebutkan Binti Hakim. Dia adalah seorang wanita yang telah memberikan dirinya kepada Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam untuk dinikahi. Akan tetapi menurut riwayat yang lain bahwa wanita yang telah memberikan dirinya kepada Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam untuk dinikahi adalah Ummu Syuraik.
Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam juga pernah menikah dengan Asma’ binti Ka’ab al-Jauniyah ra, namun mereka semua telah diceraikan oleh Rasulullah sholallah alaihi was salam sebelum digauli.
Disamping itu, Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam juga pernah menikah dengan salah seorang wanita dari suku Ghifar, akan tetapi setelah Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam melihatnya berkulit putih yang sangat buruk, maka Nabi sholallah alaihi was salam mengembalikan kembali kepada keluarganya.
Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam juga pernah menikah dengan Umaimah, namun anehnya ketika Nabi sholallah alaihi was salam datang kepadanya, dia berkata, “Aku berlindung kepada Allah darimu.” Maka Nabi sholallah alaihi was salam berkata kepadanya, “Semoga Allah Swt menjauhkan engkau dari orang yang engkau berlindung darinya. Kembalilah engkau pada keluargamu.”
Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam juga pernah menikah dengan Aliyah binti Dhabyan, akan tetapi akhirnya dia diceraikan oleh Nabi sholallah alaihi was salam ketika hendak dikumpulinya.
Rasulullah sholallah alaihi was salam juga pernah menikah dengan puteri ash-Shalt, akan tetapi dia meninggal dunia sebelum dikumpuli oleh Nabi sholallah alaihi was salam.
Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam juga pernah menikah dengan Mulaikah al-Laitsiyah. Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa dialah wanita yang mengatakan kepada Nabi sholallah alaihi was salam, “Aku berlindung kepada Allah darimu.” Lalu Nabi sholallah alaihi was salam menceraikannya.
Pada suatu saat Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam pernah meminang seorang wanita kepada ayahnya, lalu dia pun segera menyebutkan segala macam sifat dan prilaku anak perempuannya itu kepada Nabi sholallah alaihi was salam dan dia berkata, “Aku menambahkan satu hal lagi tentang anak perempuanku itu bahwa dia tidak pernah sakit.” Maka Nabi sholallah alaihi was salam berkata kepadanya, “Tidak ada kebaikan baginya di sisi Allah.” Lalu Nabi sholallah alaihi was salam meninggalkannya.
Kepada setiap wanita yang dinikahinya Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam telah memberikan mas kawin uang sebanyak lima ratus dirham kecuali Shafiyyah dan Ummu Habibah. Demikian menurut pendapat yang paling benar.


border"/>





