Perjalanan Dauroh dan Ziaroh Hadramaut
“Saya pernah diundang khusus oleh Raja Saudi. Di tempatkan di kerajaan sendirian. Ada pengawalan yang ketas. Semua fasilitas ada. Mewah dan sangat mewah. Saat itu saya tersiksa. Terkekang. Tak ada kebebasan. Dan kayak dipenjara. Yang kurasakan hanya kesendirian dan keterasingan di tengah kemewahan. Justru saya lebih menemukan perjalanan ruhiyah saat ini, walau ketersediaan fasilitas tidak seperti yang pernah kualami waktu menginap di kerajaan Saudi. Perjalanan daurah dan ziaroh ke Tarim Hadramaut Yaman menjadikan kita satu jiwa dan dapat menemukan jati diri”, demikian pandangan Prof. Imam Suprayogo saat tiba di Tarim, Sabtu 10 Mei 2008.
Prof. Imam Suprayogo yang saat ini menjadi Rektor UIN Malang menemukan kelezatan ruhiyah dalam dauroh dan ziaroh yang bersama dengan para kyai sepuh. Baik dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung dan Bengkulu. “Mengapa panjenengan tertarik dalam rihlah, dauroh dan ziaroh kali ini?”, demikian pertanyaanku saat menemani istirahat di Tarim pada hari pertama datang.
“Saya ini menjadi Raktor di UIN. Yang oleh para kyai dan para ulama di pandang sebagai Rektor yang mencetak kader-kader Islam liberal dan atau julukan generasi lainnya yang buruk-buruk. Maka saya ingin meminta nasehat pada para ulama dan kyai. Saya juga ingin curhat. Ingin menyampaikan yang telah kulaksanakan untuk menjaga agar mahasiswa UIN Malang tidak menjadi liberal”, demikian jawaban beliau. “Apalagi nantinya kami akan bertemu para mufti, sesepuh dan para ulama Tarim Hadramaut, pasti akan mendapatkan nasehat agar kehidupan kami lurus”, demikian tambahnya.
Perjalanan yang dimulai hari Jum’at, 9 Mei 2009 dimaksudkan untuk napak tilas perjuangan Islam di tanah Jawa dengan menelusuri asal usul pembawa Islam di negeri kita. “Mengapa harus ke Tarim, Hadramaut, Yaman?” demikian pertanyaanku. “Dari tanah Hadrami inilah para penyebar Islam di Nusantara berdakwah. Akan ditemukan keistimewaan cara, metode, teknis dan isi dakwah yang dilakukan para pejuang di Nusantara. Diharapkan dapat mengembalikan konsep dakwah yang baik, yang bener dan membuahkan hasil”, demikian jawaban Habib Taufiq As-Segaf Pasuruan Jawa Timur saat diskusi di Bandara Sana’a. “Menemukan cara dakwah yang menyentuh hati. Cara memberi pengertian dan pemahaman yang baik dan tidak menimbulkan konflik. Cara mengamalkan Islam dengan prilaku kasih sayang. Cara memberantas kemaksiatan dengan tidak menimbulkan perlawanan dan peperangan. Semua itu merupakan kasanah yang harus dicari. Semoga dapat di temukan saat rihlah, daurah dan ziarah ini”, demikian penjelasan Habib Sholeh Al Jufri.
Orang Kaya Meninggalkan Kakayaannya
Perjalanan yang sangat melelahkan terobati saat kami memasukki Kota Tarim. Kisah yang kali pertama kudengar adalah seorang yang sangat kaya raya meninggalkan kekayaannya dan sekaligus meninggalkan negerinya untuk masuk ke Tarim Hadramaut. “Kenapa masuk ke Tarim yang sangat miskin. Sulit untuk mendapatkan bahan makan karena semua batu?”, demikian pertanyaanku. “Orang kaya tersebut ingin menyambut do’a Sayidina Abu Bakar terhadap tanah Tarim. Isi do’anya adalah dari tanah Tarim didoakan agar menjadi pusat ilmu, dan dihasilkan para ulama’ serta disebarkan Islam”, demikian penjelasan dari Ust. Yahya. “Subhanallah. Sebuah pandangan ke depan dikarenakan ada keyaqinan”, demikain yang kupikirkan saat itu.
Luar biasa. Keyaqinan dapat menggerakkan energi. Keyaqinan dapat mengubah pandangan hidup dan prilaku hidup. Keyaqinan atas do’a Sayidina Abu Bakar terwujud. Saat ini Tarim telah menjadi pusat ilmu dan pusat penyebaran. Siapa orang kaya tersebut?
Dia adalah Ahmad Muhajir Bin Isa. Asalnya dari daerah Basroh Iraq.
Bangunan Berbahan Tanah Liat
Semua bangunan yang ada di Tarim berbahan dari tanah liat. Tanah liat dijampur dengan jerami. Dibentuk lempengan dengan ukuran antar 30 x 40 cm. Dijemur diterik matahari. Setelah kering dijadikan bahan temboknya. Lempengan tanah liat tersebut tidak dibakar. Hanya para agniya’ yang mampu membangun dari bahan batako, atau batu alam. Alasan lainnya, mengapa membangun dengan tanah liat. Untuk menjaga suhu di rumah agar tetap dingin saat musim panas. Dan menjaga kehangatan saat musim dingin. “Apakah tidak hancur jika ada hujan?” tanyaku. “Yaaa pasti hancur jika hujannya seperti di Indonesia. Di sini dalam satu tahun hanya ada hujan sekali. Waktunya juga hanya lima maksimal sepuluh menit. Saat hujan sesingkat itu, kondisinya langsung banjir. Jadi bangunan dari tanah liat akan awet karena tak ada hujan”, demikian jawaban penduduk Tarim.
Wanita Penggembala Kambing
Sepanjang perjalanan kami dari Darul Muthofa ke makam Nabi Hud, kami menjumpai para wanita sebagai penggembala kambing di lereng-lereng bukit. Para wanita memakai baju hitam dan bercadar hitam secara cekatan menggiring sekian banyak kambing di padang pasir. Kambing yang tidak diberi tali dapat dikendalikan dengan baik. Di samping itu para wanita tersebut juga mencari rumput atau tanaman seadanya untuk makan kambing mereka. Di lahan pertanian mereka, para wanita juga mencari kayu bakar untuk bahan masak. Kondisi ini terjadi di daerah-daerah antara Tarim hingga makan Nabi Hud.
Tempat Diturunkan Nabi Hud
Di Tanah yang gersang, yang hanya berbatuan saja diturunkan seorang utusan Allah Ta’ala. Saat saya mengunjungi maqom nabiyullah tersebut, saya hanya merenungkan dengan pertanyaan, “mengapa seorang utusan Allah diturunkan di tanah berbatu, tidak ada tumbuhan, tidak ada akses jalan saat itu. Mengapa diiturunkan seorang yang harus mengembangkan risalah Allah Ta’ala di kondisi paling sulit. Ada nilai perenungan apa? Saya yaqin pasti ada hikmah yang harus kita gali.”
Makan Nabiyullah Hud berada di lereng gunung. Untuk mencapai medannya sangat sulit. Sebelum kami mengunjunginya, kami diajak untuk berwudlu di sungai Hud. Setelah wudlu kemudian sholat di masjid Umar. Panjang makam Nabiyullah Hud tiga puluh meter. Di atas makamnya telah ditunbuhi batu. Batu yang keras. Hingga tulisan ini selesai kupublikasikan saya masih belum mendapatkan jawaban, “mengapa mereka diletakkan di medan yang sangat sulit. Padahal di belahan bumi yang lain ada medan yang lapang dan ditumbuhi tanaman sangat subur?”
Masjid Yang Hidup
Pada hari kedua kami sholat di masjid jami’ Tarim. Subhanallah masjid yang sangat besar dipenuhi oleh jamaah. Sesudah sholat magrib, para jamaah tidak langsung tidak bubar. Tetapi para jamaah duduk berkumpul tiga orang, tiga orang atau empat orang. Mereka membaca al Qur’an. Ada yang diskusi masalah diniyah. Dan ada yang hanya melanjutkan dzikir. Para jamaah tenang.
Tak Menemukan Wanita di Jalan dan di Pasar
Sepanjang saya berjalan mulai hari pertama hingga hari ketiga ini tidak menemukan wanita di jalan dan atau di pasar. Yang menjalankan aktifitas di jalan atau di pasar para bapak, bapaknya saja. Wanita terjaga. Sangat berbalik dengan kondisi di negeri kami. Di mana para wanitanya beraktifitas di luar rumah dengan sangat leluasa. Mungkin Anda akan bertanya, “lhooo kenapa para wanita tidak ke pasar tetapi ada yang dibebaskan mengembala kambing dan atau mencari rumput?”
Bersekolah Tak Memakai Sepatu
Saya sempat menyaksikan lima sekolah yang ada di beberapa desa di Tarim. Anak-anak sekolah tidak memakai sepatu. Baju yang dipakai sangat kumal. Buku yang dibawa tidak dimasukkan tas dengan baik tetapi ditali menggunakan tali rapia. Wajahnya terlihat sayu. Kulitnya tak terawat.


border"/>






lha, artinya, apa yang ada di Al azhaar ini jauh lebih baik dari yang di Tarim itu to. Selayaknya kita banyak bersyukur dan berusaha lebih baik lagi, agar kita mampu memberikan sesuatu yang lebih kepada santri-santri kita.
Jazakumullah ustadzah,
Emang bener secara fisik di al azhaar lebih baik dari Tarim. Namun secara lingkungan mungkin tidak. Anak-anak di Tarim terjaga dari kemaksiatan. Mereka tidak pernah menemukan gambar wanita telanjang di pinggir jalan. Anak-anak kita setiap saat disuguhi gambar porno tersebut. Demikian pula di rumah mereka. Di masjid mereka. Di pasar mereka. Hasilnya pendidikan di Tarim mampu menelorkan ulama’-ulama’ dunia.
Terima kasih semangatnya untuk membangun kembali al Azhaar agar lebih baik. Semoga semua unsur dapat mendukung dan mewujudkan dalam kekompakkan dan kekeluargaan
Subhaanallah…sebuah pengalaman perjalanan yang sangat berharga …yang moga-moga dapat banyak membukakan cakrawala pemikiran kita (lewat tulisan panjenengan)…Jadi pingin ustadz…
Kebetulan akses internet di Tarim Zaman agak sulit sehingga pengalaman menraik belum dapat saya tulis semua. Disamping itu ada kepadatan kegiatan sehingga kesempatan menulis tidak ada. Insya Allah selepas pulang dari Tarim Hadramaut Yaman akan kami tulis satu persatu pengalaman yang sangat berharga ini. Mudah-mudah Antum ada kesempatan ke sana
Ya. saya melihat dan merasa perjalanan Rombongan Kyai ke Hadramaut banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh, sehingga dari manfaat tersebut bisa dikembangkan dan dibagikan ke para santri di pondoknya masing-masing, termasuk di Al Azhaar. Ada yang menarik bagi saya secara pribadi yaitu tentang ada hubungan yang sangat erat antara para pengemban dakwah dari Yaman dan di Jawa (Nusantara) yang ternyata keturunan murni dari Rosulullah yaitu para Waliyullah. Mungkin bisa diulas sejarahnya, metode sukses berdakwah di Pulau Jawa oleh para Wali, silsilahnya sehingga di Jawa merupakan termasuk keturunan langsung Rosulullah. Trims.
Insya Allah akan kami tulis pelan-pelan dan semoga menjadikan kita bagian dari keistimewaan Islam di tanah Jawa ini. Menelusuri membutuhkan waktu dan ketelatenan. Insya Allah semua dapat dijalankan jika niat kuat mendorong terus. Semoga Islam kita merupakan Islam yang bersumber murni dari para durriyah rasul. Jazakallah
رب فانفعنا ببركتهم واهدنا الحسنى بحرمتهم
Amin ya robbal alamin